Sastra
Judul Buku :
The Last Emperor
Tebal Halaman : 446
Halaman ( Epilog+Foto eksklusif )
Penerbit :
PT SERAMBI ILMU SEMESTA
Revisi :
Paul Kramer
Autobiogravi :
Henry Pu yi
Tahun Terbit :
Penerjemah :
Fahmi Yamani
Penyunting :
Moh. Sidiq
Kali ini author mendapat tugas baru
untuk membaca dan menyimpulkan sebuah novel autobiografi Henry Pu Yi yang telah
direvisi oleh Paul Kramer. Kabarnya, novel ini merupakan novel Best Seller pada
masanya.
Ketebalan bukunya cukup tebal, ya
walaupun tidak setebal novel Harry Potter “The Goblet of Fire” sama " The Deathly Hallows " tapi buku ini
cukup membuat author hampir menangis dan sempat tak percaya. Karena memang
tragis, kisah yang di alami oleh Pu Yi, seorang kaisar terakhir dinasti Qing di
China ini.
Di dalam buku ini terdapat 6 BAB yang
masing-masing BAB nya mengisahkan realitas yang terjadi pada Pu Yi “Sang
Kaisar Terakhir China”. Mulai dari masa kanak-kanak nya, masa restorasinya yang singkat,
sampai masa penahanannya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca ! Dan Epilog nya bagus banget, saking bagusnya jadi harus baca 2 kali di bagian epilog..bhak..
Kesimpulan :
Henry Pu Yi adalah seorang Kaisar Terakhir China dari Dinasti Qing. Dia dibesarkan di Kota Terlarang. Henry Pu Yi dinobatkan sebagai Kaisar pada saat beliau masih berusia 2 tahun (1908). Sebenarnya nama Henry bukanlah nama original milik Pu Yi karena pada saat itu, ia memiliki tutor berkebangsaan Skotlandia yang bernama Reginald flemming Johnston yang telah banyak memberikan pengaruh kepada Pu Yi, sehingga Pu Yi tertarik akan budaya Barat dan memintanya untuk memberikan nama barat, dan akhirnya disisipkan nama original barat "Henry" di depan nama Pu Yi menjadi Henry Pu Yi.
" Kaisar Sepuluh ribu Tahun" adalah julukan bagi sang Kiasar. Pu Yi adalah seorang pemimpin yang sama sekali tidak mempunyai jiwa kepemimpinan saat ia masih berkuasa sebagai seorang Kaisar di Kota Terlarang. Mengapa demikian? Karena dia di didik oleh keluarga kerajaan atas perintah dari Janda Permaisuri Tzu Hsi, dengan berbagai macam peraturan yang mengikat dan tidak membebaskan pola pikir Pu Yi. Sehingga ia tidak mengetahui apa yang di maksud dengan kepemimpinan, bagaimana menjadi seorang Kaisar untuk memajukan rakyat karena yang ia tahu hanyalah etika dan tata cara yang harus dilakukan sebagai seorang kaisar dalam melakukan berbagai macam ritual kerajaan.
Buku ini membahas mengenai :
1. Siapa itu Pu Yi dan bagaimana perjalanan hidupnya ?
2. Konflik dalam negara di China pada masa dinasti Qing antara kaum komunis yang ingin
mengubah sistem pemerintahan menjadi republik dan kaum konvensional (kerajaan) yang
masih ingin mempertahankan sistem pemerintahannya yang monarki.
Kisah dari Pu Yi ini menggambarkan sosok seorang pemimpin yang takut akan kematian dan selalu berlindung di bawah perlindungan sekutu.Berbagai macam kejadian proses yang telah ia lewati seperti penobatan, restorasinya yang singkat, menjadi Kaisar selama 3 kali, sampai ke masa penahanannya di fushun sungguh perjalanan dan kisah hidup yang luar biasa.
Henry Pu Yi di jadikan sebagai boneka oleh Jepang untuk mendapatkan tujuannnya karena pada saat memasuki Perang Dunia II. Jepang tengah berperang melawan pasukan Komunis Uni Soviet (Rusia) dan juga Amerika. Dan di China terdapat 2 Kubu yang masing-masing berbeda pemahaman, sehingga dibuatkannya perjanjian perlakuan baik antara kaum republik dan kaum konvensional. Kaum republik yang lebih memihak sekutu Amerika dan Uni Soviet sedangkan kaum Konvensional pro Jepang. Mengetahui hal itu Jepang memanfaatkan kaum kerajaan dari Dinasti Qing dengan Kaisar nya Henry Pu Yi untuk mendapatkan peperangan dengan mendapat dukungan dari kaum kerajaan. Jadi tidak aneh jika pada awalnya pihak Jepang selalu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada keluarga kerajaan dan menjadikan Henry Pu Yi sebagai Kaisar di Manchukuo.
Tetapi dengan di jadikannya Pu Yi sebagai seorang Kaisar tidak membuatnya merasa aman dan tenang, justru membuatnya menjadi seseorang yang selalu gelisah, dan ketakutan akan kematian. Untuk membuat pikirannya menjadi lebih tenang, Pu Yi merealisasikan ajaran Buddha. Sampai masa penahanannya yang mereformasi (pembentukan ulang Pu yi secara pemikiran, sikap dan mental) menjadikan Pu Yi menjadi seseorang yang baru dengan bertahap. Selama masa penahanannya di Fushun Pu Yi baru menyadari bahwa hidup menjadi seorang Kaisar bukanlah hal yang menyenangkan. Didikan yang ia terima selama berada di dalam Kota Terlarang bukan menjadikannya orang yang bijaksana dan berjiwa kepemimpinan tetapi membuatnya menjadi seseorang yang lemah dan tidak bisa mengambil sikap. Kekayaan yang dimiliknya dengan banyaknya emas, perak, berlian, dan pakaian dari sutra membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan berpikir bahwa semua permasalahan dan harga diri dapat ditangani dengan kekayaannya. Pu Yi menjalani kehidupannya yang baru 180 derajat berbeda dengan kehidupannya sebagai seorang kaisar. Ia tidak bisa melakukan apa yang biasanya rakyat biasa lakukan sehingga dia banyak di cemooh dan di kritik oleh sesama tahanannya. Tetapi dengan kritikan dan cemoohan yang ia dapatkan ia menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, melakukan pengakuan yang sebenarnya.
Banyak bagian cerita yang membuat saya terheran-heran sekaligus tertawa, misalnya pada saat Pu Yi memerintahkan sekelompok kasim untuk menjaga tikus agar tikus itu terhindar dari kejaran kucing. Lalu pemberian kowtow yang dilakukan oleh Pu yi terhadap telur yang hendak ia makan dan Juga larangan untuk membunuh lalat :D
Jadi, jika kita membayangkan ingin menjadi seorang keluarga kerajaan yang sering kita lihat di film-film seperti Barbie as The Princess and a Pauper atau yang lainnya, yang selalu dilayani, diberi makan dengan menu makanan yang banyak, mengahdiri acara pesta, kaya raya dengan segudang perhiasan dan terhormat menggunakan mahkota, di dandani, terkenal atau apalah yang membuat kita interesting dengan hal itu. Itu bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi dengan hal itu seorang pemimpin terbelenggu pola pikir nya dan tidak bis menjadi dirinya sendiri. sehingga tujuannya untuk memakmurkan rakyatnya, negaranya ataupun kerajaannya terlupakan.
Hidup di dalam kegelisahan, ketakutan dan tekanan bukanlah sikap kepemimpinan seorang penguasa yang dibutuhkan oleh rakyatnya.
Thank's for Attention :')
Kesimpulan :
Henry Pu Yi adalah seorang Kaisar Terakhir China dari Dinasti Qing. Dia dibesarkan di Kota Terlarang. Henry Pu Yi dinobatkan sebagai Kaisar pada saat beliau masih berusia 2 tahun (1908). Sebenarnya nama Henry bukanlah nama original milik Pu Yi karena pada saat itu, ia memiliki tutor berkebangsaan Skotlandia yang bernama Reginald flemming Johnston yang telah banyak memberikan pengaruh kepada Pu Yi, sehingga Pu Yi tertarik akan budaya Barat dan memintanya untuk memberikan nama barat, dan akhirnya disisipkan nama original barat "Henry" di depan nama Pu Yi menjadi Henry Pu Yi.
" Kaisar Sepuluh ribu Tahun" adalah julukan bagi sang Kiasar. Pu Yi adalah seorang pemimpin yang sama sekali tidak mempunyai jiwa kepemimpinan saat ia masih berkuasa sebagai seorang Kaisar di Kota Terlarang. Mengapa demikian? Karena dia di didik oleh keluarga kerajaan atas perintah dari Janda Permaisuri Tzu Hsi, dengan berbagai macam peraturan yang mengikat dan tidak membebaskan pola pikir Pu Yi. Sehingga ia tidak mengetahui apa yang di maksud dengan kepemimpinan, bagaimana menjadi seorang Kaisar untuk memajukan rakyat karena yang ia tahu hanyalah etika dan tata cara yang harus dilakukan sebagai seorang kaisar dalam melakukan berbagai macam ritual kerajaan.
Buku ini membahas mengenai :
1. Siapa itu Pu Yi dan bagaimana perjalanan hidupnya ?
2. Konflik dalam negara di China pada masa dinasti Qing antara kaum komunis yang ingin
mengubah sistem pemerintahan menjadi republik dan kaum konvensional (kerajaan) yang
masih ingin mempertahankan sistem pemerintahannya yang monarki.
Kisah dari Pu Yi ini menggambarkan sosok seorang pemimpin yang takut akan kematian dan selalu berlindung di bawah perlindungan sekutu.Berbagai macam kejadian proses yang telah ia lewati seperti penobatan, restorasinya yang singkat, menjadi Kaisar selama 3 kali, sampai ke masa penahanannya di fushun sungguh perjalanan dan kisah hidup yang luar biasa.
Henry Pu Yi di jadikan sebagai boneka oleh Jepang untuk mendapatkan tujuannnya karena pada saat memasuki Perang Dunia II. Jepang tengah berperang melawan pasukan Komunis Uni Soviet (Rusia) dan juga Amerika. Dan di China terdapat 2 Kubu yang masing-masing berbeda pemahaman, sehingga dibuatkannya perjanjian perlakuan baik antara kaum republik dan kaum konvensional. Kaum republik yang lebih memihak sekutu Amerika dan Uni Soviet sedangkan kaum Konvensional pro Jepang. Mengetahui hal itu Jepang memanfaatkan kaum kerajaan dari Dinasti Qing dengan Kaisar nya Henry Pu Yi untuk mendapatkan peperangan dengan mendapat dukungan dari kaum kerajaan. Jadi tidak aneh jika pada awalnya pihak Jepang selalu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada keluarga kerajaan dan menjadikan Henry Pu Yi sebagai Kaisar di Manchukuo.
Tetapi dengan di jadikannya Pu Yi sebagai seorang Kaisar tidak membuatnya merasa aman dan tenang, justru membuatnya menjadi seseorang yang selalu gelisah, dan ketakutan akan kematian. Untuk membuat pikirannya menjadi lebih tenang, Pu Yi merealisasikan ajaran Buddha. Sampai masa penahanannya yang mereformasi (pembentukan ulang Pu yi secara pemikiran, sikap dan mental) menjadikan Pu Yi menjadi seseorang yang baru dengan bertahap. Selama masa penahanannya di Fushun Pu Yi baru menyadari bahwa hidup menjadi seorang Kaisar bukanlah hal yang menyenangkan. Didikan yang ia terima selama berada di dalam Kota Terlarang bukan menjadikannya orang yang bijaksana dan berjiwa kepemimpinan tetapi membuatnya menjadi seseorang yang lemah dan tidak bisa mengambil sikap. Kekayaan yang dimiliknya dengan banyaknya emas, perak, berlian, dan pakaian dari sutra membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan berpikir bahwa semua permasalahan dan harga diri dapat ditangani dengan kekayaannya. Pu Yi menjalani kehidupannya yang baru 180 derajat berbeda dengan kehidupannya sebagai seorang kaisar. Ia tidak bisa melakukan apa yang biasanya rakyat biasa lakukan sehingga dia banyak di cemooh dan di kritik oleh sesama tahanannya. Tetapi dengan kritikan dan cemoohan yang ia dapatkan ia menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, melakukan pengakuan yang sebenarnya.
Banyak bagian cerita yang membuat saya terheran-heran sekaligus tertawa, misalnya pada saat Pu Yi memerintahkan sekelompok kasim untuk menjaga tikus agar tikus itu terhindar dari kejaran kucing. Lalu pemberian kowtow yang dilakukan oleh Pu yi terhadap telur yang hendak ia makan dan Juga larangan untuk membunuh lalat :D
Jadi, jika kita membayangkan ingin menjadi seorang keluarga kerajaan yang sering kita lihat di film-film seperti Barbie as The Princess and a Pauper atau yang lainnya, yang selalu dilayani, diberi makan dengan menu makanan yang banyak, mengahdiri acara pesta, kaya raya dengan segudang perhiasan dan terhormat menggunakan mahkota, di dandani, terkenal atau apalah yang membuat kita interesting dengan hal itu. Itu bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi dengan hal itu seorang pemimpin terbelenggu pola pikir nya dan tidak bis menjadi dirinya sendiri. sehingga tujuannya untuk memakmurkan rakyatnya, negaranya ataupun kerajaannya terlupakan.
Hidup di dalam kegelisahan, ketakutan dan tekanan bukanlah sikap kepemimpinan seorang penguasa yang dibutuhkan oleh rakyatnya.
Thank's for Attention :')

